Singaraja, 2026 — Tabuh Rah merupakan salah satu praktik budaya Bali yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan ritual masyarakat. Namun, dalam perkembangannya, praktik tersebut mengalami perubahan konteks dan fungsi hingga berkaitan dengan Tajen. Perubahan inilah yang menjadi perhatian lima mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melalui penelitian berbasis etnomatematika.
Penelitian tersebut berjudul “Transformasi Tabuh Rah dari Ritual ke Praktik Profan: Kajian Etnomatematika sebagai Rekonstruksi Budaya Bali untuk Penguatan Identitas Nasional”. Penelitian ini dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Tahun 2026.
Tim penelitian terdiri atas Putu Ananta Arya Dharmika, Gede Saga Wivasaktya, dan I Putu Nugi Ajunaya dari Pendidikan Matematika, Sohib Arrahmi dari Pendidikan Sosiologi, serta I Komang Nandha Pranayana Riawan dari Pendidikan Sejarah, dengan Bapak I Putu Pasek Suryawan sebagai dosen pembimbing.
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang terjadi pada pengetahuan dan makna budaya ketika Tabuh Rah mengalami perubahan konteks. Para peneliti tidak hanya melihat praktik tersebut dari sisi budaya, tetapi juga mencoba menemukan pengetahuan matematika yang selama ini hidup di dalamnya.
Pendekatan etnomatematika digunakan untuk melihat bagaimana konsep matematika hadir dalam aktivitas budaya masyarakat. Melalui pendekatan ini, peneliti menemukan adanya unsur bilangan, rasio, ruang, posisi, waktu, aturan, dan pengambilan keputusan dalam Tabuh Rah maupun Tajen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa matematika tidak selalu hadir dalam bentuk rumus atau perhitungan di ruang kelas. Pengetahuan matematika juga dapat ditemukan dalam aturan dan aktivitas yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas, penelitian dilakukan di Desa Bila, Kabupaten Buleleng, Desa Songan, Kabupaten Bangli, dan Desa Kesiman, Kota Denpasar. Pada setiap lokasi, tim melibatkan 12 informan kunci.
Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dokumentasi, dan studi literatur. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding.
Peneliti membandingkan temuan dari setiap lokasi untuk melihat pola yang muncul, termasuk pola pengetahuan matematis dan perubahan fungsi dalam praktik Tabuh Rah dan Tajen. Analisis juga diperkuat melalui triangulasi serta konfirmasi kepada informan dan peserta FGD.
Keterlibatan tiga bidang keilmuan membuat penelitian ini melihat persoalan dari berbagai sudut. Mahasiswa Pendidikan Matematika berfokus pada unsur dan aktivitas etnomatematika. Pendidikan Sosiologi melihat perubahan sosial dan makna praktik dalam masyarakat. Sementara itu, Pendidikan Sejarah mengkaji perkembangan historis serta keberlanjutan budaya Tabuh Rah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur matematika tetap ditemukan dalam praktik yang telah mengalami transformasi. Perbedaannya terletak pada fungsi dan konteks penggunaannya.
Dalam Tabuh Rah, unsur bilangan, ruang, arah, posisi, waktu, dan aturan berkaitan dengan keteraturan ritual serta memiliki makna simbolik. Ketika praktik tersebut berada dalam konteks Tajen, sebagian unsur yang sama digunakan untuk mengatur pertandingan, pengayam-ayaman, dan mekanisme taruhan.
Penelitian juga menemukan beberapa bentuk rasio dalam praktik Tajen, seperti Gasal-Ngasal 4:5, Cok-Ngecok 3:4, Apit-Ngapit 1:2, Nemin 5:6, dan Dapang 9:10.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perubahan budaya tidak selalu berarti hilangnya seluruh pengetahuan yang ada di dalam suatu tradisi. Pengetahuan tertentu dapat tetap bertahan, tetapi mengalami perubahan fungsi ketika konteks penggunaannya berubah.
Tiga Temuan Penting
Pertama, terjadi perubahan fungsi pengetahuan matematis. Unsur bilangan, ruang, arah, posisi, dan aturan yang sebelumnya mendukung keteraturan ritual mengalami perubahan fungsi dalam konteks Tajen. Unsur tersebut kemudian berkaitan dengan pengaturan pertandingan, pengayam-ayaman, dan mekanisme taruhan.
Kedua, terjadi perubahan konteks dan makna sosial budaya. Perubahan dari konteks ritual menuju praktik profan tidak hanya mengubah cara praktik dijalankan, tetapi juga memengaruhi fungsi dan makna yang melekat di dalamnya. Penelitian menemukan bahwa bentuk perubahan tersebut tidak sepenuhnya sama di setiap wilayah karena dipengaruhi oleh konteks Desa, Kala, Patra.
Ketiga, rekonstruksi budaya perlu mempertahankan makna, bukan hanya bentuk. Upaya melestarikan Tabuh Rah tidak cukup dengan mempertahankan tampilan atau rangkaian praktiknya. Rekonstruksi perlu memperhatikan pakem, pengetahuan, aturan, fungsi, konteks, dan makna budaya yang menjadi bagian dari praktik tersebut.
Dari Penelitian Menuju Rekonstruksi Budaya
Bagi tim peneliti, kajian etnomatematika tidak berhenti pada upaya menemukan konsep matematika dalam budaya. Pengetahuan yang ditemukan juga dapat digunakan untuk memahami perubahan yang terjadi dan menjadi dasar dalam menyusun rekonstruksi budaya.
Melalui rekonstruksi berbasis etnomatematika, penelitian ini diarahkan untuk mendukung keberlanjutan pengetahuan Tabuh Rah agar dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya mempertahankan bentuk luar suatu tradisi, tetapi juga menjaga pengetahuan dan makna yang terkandung di dalamnya.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan pentingnya kerja lintas disiplin dalam memahami budaya Bali. Matematika, sosiologi, dan sejarah dipertemukan untuk melihat satu persoalan budaya secara lebih utuh. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada pelestarian budaya Bali sekaligus mendukung penguatan identitas nasional melalui keberlanjutan pengetahuan budaya lokal.(fmipa)








