SINGARAJA — Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sains serta membekali pendidik dengan perangkat pembelajaran yang adaptif, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bekerja sama dengan Sogang University melalui Program Leading University Project for International Cooperation (LUPIC) menyelenggarakan kegiatan “Workshop Pengembangan Bahan Ajar Kimia dengan Pendekatan STEM”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di SMA Laboratorium Undiksha, Singaraja.
Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Sekretaris Jurusan Kimia FMIPA Undiksha, Prof. Dr. I Putu Parwata, S.Si., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar workshop kolaboratif ini dapat memberikan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan nyata bagi para peserta dalam mengmbangkan bahan ajar kimia berlandaskan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) guna mendukung pencapaian tujuan pembelajaran.
Prof. Parwata menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala SMA Lab Undiksha atas izin dan fasilitasi tempat. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada panitia, pengurus, serta Ketua Kerja Sama LUPIC dan tim yang telah mengeksekusi program kerja sama antara Undiksha dan Sogang University. Beliau turut mengapresiasi kehadiran perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), para guru, dosen, dan mahasiswa yang terlibat aktif.
Workshop ini diikuti oleh peserta yang mencakup jajaran akademisi Undiksha, perwakilan tim kerja sama LUPIC, Ketua/pengurus MGMP Kimia dari seluruh Kabupaten/Kota se-Provinsi Bali, guru SMP-SMA, mahasiswa pascasarjana, dan mahasiswa pendidikan kimia.
Sesi materi utama dipaparkan oleh Prof. Drs. I Wayan Subagia, Ph.D. bersama I Gede Yogiswara, S.Pd. Dalam pemaparannya, Prof. Subagia menjelaskan bahwa program ini dikembangkan diawali di SMA Lab Undiksha dan dirancang untuk didesiminasikan ke seluruh MGMP Kimia Kab/Kota di Bali. Latar belakang utama pengembangan ini adalah fakta bahwa guru sering mengalami kesulitan melakukan inovasi pembelajaran karena keterbatasan perangkat atau “amunisi” pembelajaran yang memadai.
Bahan ajar yang dikembangkan mengintegrasikan pendekatan STEM dengan model Project-Based Learning (PjBL). Perangkat pembelajaran dibagi menjadi dua komponen utama, yaitu Topik Materi Pegangan Guru dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Dalam LKPD, siswa diberikan topik praktikum atau proyek bernuansa kontekstual, seperti pembuatan bioplastik (untuk kelas XI) serta pembuatan sabun atau tape (untuk kelas X) yang mencakup konsep reaksi kimia, kimia hijau, dan stoikiometri. Dalam proses ini, peran guru difokuskan pada pemberian scaffolding sesuai tingkat kebutuhan siswa.
Selain itu, diperkenalkan pula inovasi pada aspek asesmen melalui penggunaan instrumen self-assessment. Instrumen ini memungkinkan siswa melakukan penilaian mandiri secara jujur terhadap aspek kognitif, psikomotor, serta sikap (spiritual, sosial, dan sikap ilmiah).
Sebagai penutup, Prof. Subagia mengharapkan masukan dan kritikan dari para peserta workshop untuk menyempurnakan draf bahan ajar yang telah dirancang. Bahan ajar hasil penyempurnaan final selanjutnya akan didistribusikan secara meluas ke seluruh MGMP Kimia Kabupaten/Kota se-Provinsi Bali sebagai wujud nyata diseminasi program kerja sama LUPIC.(fmipa)















