Singaraja. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bekerja sama dengan BIONESIA menyelenggarakan serangkaian kegiatan konservasi penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK) melalui kuliah tamu yang dilaksanakan secara hybrid pada Senin, 20 April 2026, bertempat di Gedung Balingkang Confucius Institute Undiksha. Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk mendukung upaya pelestarian penyu yang berkelanjutan.
Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber dari berbagai institusi, di antaranya Setiono, S.Pi., M.M. dari Direktorat KSG KKP, Ratih Rachma Ayustina, K. Kel. dari WWF Indonesia, Dr. Gede Iwan Setia Budi, S.Pd., M.Si. dari Pusat Kajian Kemaritiman Undiksha, serta Andrianus Sembiring, S. Kel., M.Si. selaku Direktur BIONESIA.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi Perikanan dan Kelautan Undiksha secara luring, serta peserta dari Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, dan Pokmaswas Bali Nusa secara daring. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif terkait konservasi penyu, mencakup aspek kebijakan, kondisi ekologi, hingga tantangan perdagangan ilegal.
Acara secara resmi dibuka oleh Dekan FMIPA Undiksha, Dr. I Wayan Sukra Warpala, S.Pd., M.Sc., yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan dokumen kerja sama sebagai bentuk penguatan kolaborasi antara berbagai pihak. Dalam sambutannya, Dekan FMIPA menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Biodiversitas Indonesia (BIONESIA) atas kolaborasi bersama Universitas Pendidikan Ganesha, WWF Indonesia, serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP. Ia juga menegaskan bahwa dukungan dari program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA) menjadi penguat penting dalam upaya konservasi berbasis kolaborasi lintas sektor.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa isu konservasi penyu merupakan persoalan kompleks yang memerlukan perhatian serius. Penyu sebagai spesies kunci memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, khususnya di kawasan BLSK yang kaya akan keanekaragaman hayati. Namun demikian, keberadaan penyu saat ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan habitat peneluran, perubahan lingkungan, hingga praktik perdagangan ilegal.
Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang mengusung tema “Identifikasi dan Pemetaan Lokasi Peneluran serta Titik Perdagangan Penyu di Bentang Laut Sunda Kecil”, para peserta diharapkan mampu mengidentifikasi lokasi peneluran penyu berbasis data, memetakan titik-titik perdagangan yang masih terjadi, serta merumuskan strategi konservasi yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Undiksha melalui FMIPA menegaskan komitmennya dalam mendukung konservasi berbasis ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara akademisi, pemerintah, lembaga non-pemerintah, serta masyarakat lokal diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hayati. Nilai kearifan lokal Bali, yakni Tri Hita Karana, juga diangkat sebagai landasan filosofis dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Diharapkan, kegiatan ini tidak hanya memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian penyu, tetapi juga mendorong terwujudnya kolaborasi berkelanjutan yang berdampak nyata bagi kelestarian ekosistem laut di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil.(fmipa).













